Buku Tulis Marchella

Catatan keseharianku

Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru

Presiden Soeharto sempat kirim surat terhadap Pramoedya Ananta Toer disaat sastrawan itu masihlah dalam pembuangan di Pulau Buru pada 1973. Surat itu dikirim berbarengan bingkisan buat Pram serta banyak tapol yang lain.

Harian Kompas edisi 9 November 1973 mencatat surat ini diserahkan oleh Wakil Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan serta Ketertiban Laksamana Sudomo terhadap Tubuh Pengelola Resettlement Pulau Buru (Bapreru) Brigjen Wadli. Sudomo-pun membacakan surat itu.

" Kekhilafan untuk seseorang manusia merupakan lumrah. Akan tetapi kewajaran ini mesti juga ada kelanjutannya yg lumrah, ialah kejujuran serta keberanian buat menemukannya jalan yg lurus serta dibenarkannya, " tuliskan Soeharto.

Surat bersama-sama bingkisan itu dinantikan oleh banyak tapol yg berlatar sastrawan serta seniman. Militer saat orde baru kirim mereka ke pulau itu sejak mulai Agustus 1969. Pramoedya ada ke Pulau Buru sejak mulai pengiriman pertama tapol PKI.

Kapal yg membawa Pramoedya datang di Namlen, kota Kabupaten Pulau Buru pada 10 September 1969 berbarengan 850 tapol grup B. Sebelum pergi dia alami penahanan di Rumah Tahanan Militer Tangerang lantas dipindahkan ke Penjara Karang Tengah, Nusa Kambangan.

Istri Pramoedya menitipkan bingkisan berwujud empat buku ejaan Bahasa Indonesia. Sastrawan asal Padang, Rivai Apin menantikan buku-buku pelajaran bahasa Perancis dari istrinya. Pemerintah sendiri pula berikan bingkisan buku, antara lain Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) . Sejumlah 15 tapol pelukis serta pemahat pula dapatkan alat tulis serta pahat dari pemerintah.

Penyerahan bingkisan ini mendukung Pramoedya buat menuliskannya karya-karyanya dari balik penjara. Pada tahun itu, orde baru mulai punya sikap dikit melunak memperlakukan tapol PKI di Pulau Buru.

Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro berkunjung serta bersua dengan Pramoedya pada Oktober 1973. Kunjungan itu dilaksanakan gak seusai ia datang serta bersua beberapa orang asing di Paris serta Belanda dalam perjalanan pulang dari Pertemuan Tingkat Tinggi Nonblok IV di Aljazair pada 1973. Terhadap Soemitro beberapa orang asing itu bertanya bab tahanan politik terpenting Pramoedya Ananta Toer yg ditahan di Pulau Buru, Kepulauan Maluku.

Pada Oktober 1973 ia ada ke Pulau Buru dengan memasukkan team psikolog seperti Fuad Hasan, Saparinah Sadli, serta Susmaliah Suwondo. Pula membawa beberapa kawakan dari pelbagai wadah seperti Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, Jacob Oetama, serta Nardi D. M.

Koh Young Hun dalam buku Pramoedya Menuntut : Menelusur Jejak Indonesia mencatat, hadirnya Soemitro bikin Pramoedya kembali dapat berkarya. Pramoedya memperoleh pemberian mesin tulis buat menulis yg kirim seusai Soemitro pulang. Tidak cuman berkirim semua permohonan Pram, Soemitro pula menyuruh melewatkan Pram dari sel.

  • Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.

    Isi tulisan akan diterbitkan dan hanya pemilik blog yang dapat menghapusnya.

    削除
    Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru
      Komentar(0)